<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Antonbara's Blog</title>
	<atom:link href="http://antonbara.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://antonbara.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Mar 2009 02:40:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='antonbara.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Antonbara's Blog</title>
		<link>http://antonbara.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://antonbara.wordpress.com/osd.xml" title="Antonbara&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://antonbara.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>PENDIDIKAN AGAMA:  Pendidikan nilai, moral atau agama?</title>
		<link>http://antonbara.wordpress.com/2009/03/04/pendidikan-agama-pendidikan-nilai-moral-atau-agama/</link>
		<comments>http://antonbara.wordpress.com/2009/03/04/pendidikan-agama-pendidikan-nilai-moral-atau-agama/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Mar 2009 02:40:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antonbara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antonbara.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[Pelajaran agama yang diberikan di setiap sekolah tidak murni lagi pendidikan agama. Karena nilai-nilai yang disampaikan begitu kompleks artinya nilai-nilai itu sudah bercampur baur sehingga sulit untuk dipisahkan. Nilai-nilai tersebut tidak hanya milik agama, nilai, moral tetapi sudah menjadi milik &#8230; <a href="http://antonbara.wordpress.com/2009/03/04/pendidikan-agama-pendidikan-nilai-moral-atau-agama/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=antonbara.wordpress.com&amp;blog=6524330&amp;post=13&amp;subd=antonbara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pelajaran agama yang diberikan di setiap sekolah tidak murni lagi pendidikan agama. Karena nilai-nilai yang disampaikan begitu kompleks artinya nilai-nilai itu sudah bercampur baur sehingga sulit untuk dipisahkan. Nilai-nilai tersebut tidak hanya milik agama, nilai, moral tetapi sudah menjadi milik bersama. Oleh karena itu kita sering jatuh pada pendidikan moral atau nilai saja sehingga nilai-nilai agama tidak sampai pada anak. Hal ini terjadi karena nilai agama bersifat doktrinisasi berupa hafalan kitab suci dan ajaran-ajaran agama yang bersifat baku sehingga sulit dikembangkan. Salah satu jalan keluarnya adalah mempraktekan langsung dalam sekolah atau kelas, misalnya lewat “kantin kejujuran”. </p>
<p>	Tindakan meniru merupakan cara belajar yang paling mudah dilaksanakan  oleh setiap anak, misalnya meniru cara bicara orang tua, guru mereka atau meniru gerakan-gerakan bintang film kesukaan mereka. Lewat meniru itu pulalah anak-anak membentuk diri mereka, baik atau tidak baik, tergantung dari daya tangkap mereka. Proses peniruan yang dilakukan oleh setiap anak merupakan sesuatu yang memang harus dilewati oleh setiap anak. Namun proses itu harus dikontrol dan diawasi oleh orang tua dan guru agar tidak menyimpang dari nilai-nilai kebaikan. Karena itu dibutuhkan suatu tataran nilai yang dapat dijadikan pedoman bagi mereka. Ada berbagai tataran nilai yang dapat dipakai, salah satunya adalah nilai-nilai agama yang diperoleh dalam pelajaran agama, baik yang mereka terima dari kedua orang tua mereka ataupun di sekolah. Sekolah menjadi tempat alternatif bagi perkembangan keagamaan anak karena di sekolahlah anak-anak bertemu dengan begitu banyak anak yang berbeda keyakinan, sifat, yang bisa mempengaruhi kehidupan mereka baik secara langsung maupun tidak langsung. Kalau mereka tidak dibekali dengan nilai-nilai agama yang mendasar bisa jadi anak bersikap tidak peduli, anti terhadap kebaikan, akibatnya mereka seenaknya sendiri, tidak peduli terhadap teman, kurang bertanggungjawab.<br />
	Namun sayang, pelajaran agama yang diterima oleh anak-anak di Sekolah Dasar cederung bersifat doktrinisasi berupa hafalan, kitab suci dan ajaran-ajaran agama yang bersifat tetap dan baku sehingga sulit untuk dikembangkan. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya nilai-nilai keagamaan sudah menjadi harga mati yang harus dipatuhi. Dalam situasi demikian, dibutuhkan kreatifitas guru agama untuk mencari nilai-nilai yang bisa direfleksikan lebih lanjut sehingga dapat dikaitkan dengan kehidupan masyarakat, syukur-syukur ada kaitannya dengan situasi anak-anak zaman sekarang. Kelihatannya memang menantang tetapi terkadang kita jatuh pada pendidikan nilai dan moral, walaupun keduanya tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama.<br />
	Selain itu, pelajaran agama mungkin juga pelajaran-pelajaran lainnya, seperti yang kita ajarkan sekarang sebagian besar hanya bergerak dalam ranah kognitif saja yaitu kemampuan untuk mengingat kembali defenisi, menjelaskan pengertian, mengevaluasi suatu peristiwa dan sedikit sekali dalam ranah afektif seperti menghargai, menerima tanggung jawab, menunjukkan ketekunan, mempertahankan kebiasaan yang baik. Selain itu, ranah interaktif sangat jarang kita kembangkan, seperti kebiasaan berprilaku yang baik dalam pergaulan, bagaimana berdoa yang baik. Pada hal ranah afektif dan interaktif sangat penting ditanamkan sejak dini bagi anak-anak SD agar kelak mereka bisa bersikap baik, sopan, menghargai, bertanggung jawab, tekun, solider terhadap sesamanya. Ranah-ranah tersebut tidak maksimal kita kembangkan karena waktu mengajar sangat terbatas, mengejar bahan (takut ketinggalan bahan), anak yang belum terbiasa. Salah satu jalan keluarnya mempraktekannya secara langsung dalam sekolah atau kelas, misalnya untuk melatih siswa bersikap jujur, di dalam kelas dibuatlah “kantin kejujuran”. Mungkin ada cara lain yang lebih efektif selain contoh di atas tetapi apapun cara itu sangat berguna bagi siswa agar mereka mau bersikap jujur terhadap teman dan guru mereka. </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/antonbara.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/antonbara.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/antonbara.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/antonbara.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/antonbara.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/antonbara.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/antonbara.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/antonbara.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/antonbara.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/antonbara.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/antonbara.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/antonbara.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/antonbara.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/antonbara.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=antonbara.wordpress.com&amp;blog=6524330&amp;post=13&amp;subd=antonbara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antonbara.wordpress.com/2009/03/04/pendidikan-agama-pendidikan-nilai-moral-atau-agama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/449697fd11c18c2e2f5cdab5c59c3ad3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">antonbara</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SEKOLAH DAN CITA-CITA LUHUR PENDIDIKAN</title>
		<link>http://antonbara.wordpress.com/2009/03/04/sekolah-dan-cita-cita-luhur-pendidikan/</link>
		<comments>http://antonbara.wordpress.com/2009/03/04/sekolah-dan-cita-cita-luhur-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Mar 2009 02:38:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antonbara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antonbara.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Sekolah masih dipahami sebagai tempat untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Seharusnya sekolah tidak hanya tempat untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya tetapi menciptakan manusia yang berprilaku manusiawi dan lebih peduli pada sesamanya. Di sinilah letak peranan penting sekolah untuk mewujudkannya. Namun untuk mencapai &#8230; <a href="http://antonbara.wordpress.com/2009/03/04/sekolah-dan-cita-cita-luhur-pendidikan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=antonbara.wordpress.com&amp;blog=6524330&amp;post=11&amp;subd=antonbara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekolah masih dipahami sebagai tempat untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Seharusnya sekolah tidak hanya tempat untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya tetapi menciptakan manusia yang berprilaku manusiawi dan lebih peduli pada sesamanya. Di sinilah letak peranan penting sekolah untuk mewujudkannya. Namun untuk mencapai cita-cita luhur itu dibutuhkan kerja keras. <span id="more-11"></span><br />
	Secara sederhana sekolah dipahami sebagai tempat untuk mencari ilmu. Karena itu tidak heran, kalau setiap sekolah dilengkapi dengan segala macam fasilitas yang menunjang proses belajar siswa mulai dari perangkat mengajar, AC, Komputer dan lain sebagainya. Tentu diharapkan dengan sarana (para guru, karyawan) tersebut para siswa dapat dengan mudah memahami dan menyerap ilmu pengetahuan yang diberikan oleh para guru. Tetapi perlu diingat juga sekolah bukan hanya sebuah tempat untuk memperoleh pengetahuan atau agar anak menjadi pandai secara ilmu pengetahun tetapi jauh lebih penting dari itu adalah sekolah sebagai wadah bagi guru dan siswa untuk sama-sama belajar. Belajar dalam artian ini menurut McConnel dalam bukunya Educational Psychology, belajar berarti “learning is the modification of behavior through experience an training &#8230;..in refering to learning as modification of behavior, or changes in performance, one include not only over action ……But also such mental processes as thinking and imaging” (Belajar adalah pemodifikasian tingkah laku melalui pengalaman dan latihan…..dalam mengartikan belajar sebagai pemodifikasian tingkah laku, atau perubahan tindak tanduk, seseorang tidak hanya melakukan tindakan-tindakan luar yang nampak oleh mata ……tetapi juga melakukan tindakan-tindakan dalam seperti berpikir dan berimajinasi). Jadi dalam pengertian belajar tersebut ada hubungan antara perubahan tingkah laku dan pemodifikasian tingkah laku yang baru. Kedua konsep tersebut dapat diartikan sebagai hasil dari belajar. Tingkah laku yang baru merupakan hasil dari pemodifikasian tingkah laku yang lama sehingga tingkah laku yang lama berubah menjadi tingkah laku yang lebih baik. Tentu saja perubahan tingkah laku itu harus melalui suatu pengalaman dan latihan terus menerus. Inilah cita-cita luhur pendidikan mengubah cara berpikir, sikap, cara hidup yang lama menjadi baru, lebih baik. Atau dengan kata lain menciptakan manusia yang lebih cerdas dan manusiawi, yang berpegang pada nilai-nilai kejujuran, keadilan, kerendahan hati dan peduli pada sesamanya. Sehingga ketika mereka terjun ke masyarakat mereka tidak mengikuti arus zaman tetapi tetap berpegang teguh pada nilai-nilai kemanusiaan dan memperjuangkannya.<br />
Sekolah sebagai lembaga pendidikan menjadi sarana untuk mewujudkan cita-cita luhur itu. Hal ini memang tidak mudah karena butuh kerja keras dan proses belajar yang cukup lama. Di sinilah letak peranan sekolah dan para guru. Sekolah dan guru diharapkan bisa menjadi tolak ukur bagi terbentuknya manusia-manusia yang pandai, cerdas dan terlebih lagi berprilaku manusiawi. Oleh sebab itu, sekolah dan guru dapat menjadi suri teladan bagi anak didiknya bukan sebagai momok yang ditakuti oleh anak-anak. Proses ini dimulai dari tingkat paling bawah yaitu TK sampai pada perguruan tinggi. Kalau ini bisa berjalan kiranya bangsa kita bisa lebih maju lagi karena dipimpin oleh orang-orang yang cerdas dan berprilaku manusiawi.    </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/antonbara.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/antonbara.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/antonbara.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/antonbara.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/antonbara.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/antonbara.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/antonbara.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/antonbara.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/antonbara.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/antonbara.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/antonbara.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/antonbara.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/antonbara.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/antonbara.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=antonbara.wordpress.com&amp;blog=6524330&amp;post=11&amp;subd=antonbara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antonbara.wordpress.com/2009/03/04/sekolah-dan-cita-cita-luhur-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/449697fd11c18c2e2f5cdab5c59c3ad3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">antonbara</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MEWUJUDKAN BUDAYA “NON-VIOLENCE”</title>
		<link>http://antonbara.wordpress.com/2009/02/10/mewujudkan-budaya-%e2%80%9cnon-violence%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://antonbara.wordpress.com/2009/02/10/mewujudkan-budaya-%e2%80%9cnon-violence%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Feb 2009 05:17:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antonbara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antonbara.wordpress.com/2009/02/10/mewujudkan-budaya-%e2%80%9cnon-violence%e2%80%9d/</guid>
		<description><![CDATA[Kekerasan kiranya tidak terlepas dari kehidupan manusia. Disadari atau tidak kekerasan itu sudah menjadi bagian dari diri manusia. Paling tidak, setiap manusia sudah pernah mengalaminya baik secara fisik: dicubit, dipukul oleh orang tua, kakak, teman atau orang lain. Kekerasan fisik &#8230; <a href="http://antonbara.wordpress.com/2009/02/10/mewujudkan-budaya-%e2%80%9cnon-violence%e2%80%9d/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=antonbara.wordpress.com&amp;blog=6524330&amp;post=3&amp;subd=antonbara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kekerasan kiranya tidak terlepas dari kehidupan manusia. Disadari atau tidak kekerasan itu sudah menjadi bagian dari diri manusia. Paling tidak, setiap manusia sudah pernah mengalaminya baik secara fisik: dicubit, dipukul oleh orang tua, kakak, teman atau orang lain. Kekerasan fisik ini bisa terjadi apabila ada fisik yang disakiti secara jasmani. Secara psikologis dapat berupa kebohongan, pencucian otak, indoktrinasi, ancaman dan intimidasi, dihina, dikecewakan, diperlakukan tidak adil baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengalaman kekerasan kiranya sudah mulai muncul sejak nenek moyang kita bahkan sejak manusia diciptakan pun telah terjadi tindak kekerasan.<span id="more-3"></span> Seperti hal yang terjadi pada anak Adam dan Hawa yaitu Kain dan Habel. Seiring dengan majunya peradaban dunia, kekerasan selalu saja terjadi bahkan semakin menjadi-jadi, baik berupa perang suku, antar bangsa, kelompok, maupun orang per orang. Masih jelas dalam ingatan kita, kasus pembunuhan yang dilakukan oleh seorang ibu di Malang yang tega membunuh anaknya dengan memberi minuman yang dicampur dengan racun dan akhirnya ibunya pun menyusul anaknya dengan meminum racun yang sama. Sungguh kejadian yang amat tragis. Kekerasan acapkali menjadi sarana utama dan ampuh untuk menyelesaikan suatu masalah. Disadari atau tidak hal itu sudah menjadi jalan pintas guna menghilangkan segala macam persoalan yang ada. Pembunuhan terhadapat ibu Veronika dan anaknya Devi dan juga kasus-kasus lain yang terjadi di surabaya dan sekitarnya, menjadi bukti bahwa kekerasan kini menjadi modus yang jitu untuk memecahkan persoalan di tengah masyarakat kota. Disadari atau tidak hal ini akan menjadi sebuah lingkaran setan yang akan menyebabkan munculnya masalah-masalah lain yang lebih buruk lagi, seperti balas dendam yang tak akan ada habisnya.  Menurut Erich Fromm, kekerasan muncul akibat terhalangnya seluruh kehidupan, terhambatnya spontanitas, tersumbatnya pertumbuhan dan ungkapan kemampuan-kemampuan inderawi emosional dan intelektual manusia. Ketika sebagian orang dilarang untuk mengeluarkan pendapat mereka, untuk mencari nafkah, mencari kehidupan, pemenuhan kebutuhan sehari-hari seperti makanan, pendidikan dan kesehatan dari sinilah akan muncul penolakan dan percikan-percikan yang akan melahirkan kekerasan yang acapkali berujung perkelahian bahkan kematian. Lebih jauh lagi Erich Fromm mengatakan bahwa pembentukan karakter individu ditentukan oleh pengaruh yang kuat dari pengalaman hidup yang memancar dari kebudayaan terutama pada temperamen dan perlengkapan fisik. Dengan demikian ada korelasi yang positif antara karakter individu dengan lingkungan dalam membentuk tindakan-tindakan yang jahat dan brutal. Karakter-karakter seperti sifat yang agresif, egoisme, individualisme merupakan pemicu timbulnya kekerasan yang terjadi di dalam masyarakat. Seperti yang disebutkan bahwa kekerasan terjadi bukan hanya karena faktor karakter individu tetapi juga oleh perkembangan peradaban atau lingkungan, misalnya lingkungan keluarga. Keluarga sangat berperan dalam pembentukan kualitas moral setiap orang. Keluarga yang tidak berfungsi dengan baik, akan mempengaruhi prilaku seseorang di masa depannya. Seorang anak yang sejak kecil mengalami kekerasan dalam keluarga akan membentuk dirinya menjadi orang yang anti akan kebaikan dan nilai-nilai kehidupan lainnya. Dalam lingkup masyarakat marginal, mereka seringkali mengalami tindak kekerasan dan bulan-bulanan aparat Satpol PP baik berupa kekerasan fisik, intimidasi, ketidakadilan, penggusuran, seperti pedagang kaki lima, gelandangan, pengemis karena mereka dianggap sebagai penggangu ketertiban sehingga harus disingkirkan padahal mereka juga mempunyai hak mencari nafkah, hidup aman, berbicara dan mengekspresikan pendapat, berorganisasi, terlebih lagi hak untuk hidup di bumi ini. Hak Hidup adalah syarat sine qua non (syarat mutlak) untuk mewujudkan dan mengembangkan seluruh potensi, mimpi-mimpi seorang manusia serta hak-hak lainnya. Hidup adalah syarat dasar untuk memperkembangkan diri menjadi individu dan pribadi sehingga menjadi dewasa. Oleh karena itu, hak untuk hidup adalah hak pertama dari semua hak asasi manusia, akar dari semua hak asasi manusia lainnya. Hak itu muncul karena manusia adalah seorang manusia. Dengan kata lain, manusia mempunyai hak oleh karena ia adalah manusia. Jadi hak asasi itu muncul dari kodratnya sebagai manusia (hukum alam) dan menyatu dengan martabatnya sebagai manusia. Hak itu tidak itu tidak diberikan oleh orang atau institusi lain. Ia ada bersama dengan adanya manusia dan berakhir dengan berakhirnya manusia. oleh sebab itu, tidak ada satu orang atau sekelompok orang yang berhak mengatur dan mengambilnya. Penghormatan terhadap hak hidup setiap orang menjadi sayarat mutlak dan menjadi kondisi dasar supaya manusia bisa berfungsi dengan semestinya. Tanpa penghormatan terhadap hak hidup setiap orang akan menyebabkan pelanggaran terhadap hak asasi manusia lainnya.  Struktur masyarakat yang timpang baik dalam bidang politik, ekonomi, social maupun komunikasi, juga menjadi penyebab terjadinya kekerasan dalam masyarakat. Dalam bidang politik, kelompok elit yang merupakan minoritas dibandingkan masyarakat luas sangat besar pengaruhnya dalam pengambilan kebijakan publik. Ketika kebijakan public yang berhubugan dengan masyarakat luas itu didominasi oleh segelintir elit peguasa yang bekerja dalam situasi lemahnya control terhadap eksekutif, maka kelompok elit tersebut memiliki kesempatan untuk memproduksi kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan kelompoknya. Kebijakan yang buat oleh pemerintah kota sama sekali tidak memihak wong cilik, kalau pun ada, kebijakan itu hanya setengah hati. Misalnya pemindahan para PKL yang sampai sekarang belum jelas harus ditaruh dimana. Kalau pun tempatnya sudah ada toh tempat itu sangat jauh dan tidak menguntungkan. Apabila kebijakan itu berhubungan dengan masalah ekonomi, maka kelompok elit penguasa akan diuntungkan secara ekonomi. Apalagi kalau kelompok elit itu menjalin jaringan-jaringan KKN dengan elit ekonomi yang memiliki modal. Dengan modal yang dimilikinya, cukup untuk memungkinkan bagi elit ekonomi untuk mempengaruhi kebijakan public yang sedang dirumuskan. Kombinasi antara penguasaan sumber daya ekonomi dan aksesibilitas terhadap pengambilan kebijakan public, merupakan kondisi structural yang sangat mengutungkan bagi kelompok elit minoritas dan sebaliknya amat merugikan bagi masyarakat menengah ke bawah yang merupakan kelompok mayoritas. Pembangunan pusat perbelanjaan seperti mal, supermaket, hipermarket dengan mudah dapat dibangun. Memang semua itu menguntungkan bagi beberapa pihak, tetapi apakah pembangunan itu memihak rakyat kecil? Apakah dinikmati oleh rakyat kecil? Di samping itu, kelompok elit yang memiliki akses informasi dan kewenangan pengontrolan media massa baik melalui kekuasaan politik yang digegamnya maupun kekuasaan ekonomi melalui kepemilikan saham media massa, mudah sekali menciptakan berbagai macam rekayasa guna mempengaruhi masyarakat Hal ini akan memperbesar ketimpangan di dalam masyarakat sehingga menciptakan prakondisi bagi terjadinya kekerasan dalam struktur social yang ada.  Dalam tulisan The Declaration of the parliament of the Worl Religions, Hans kung dan Karl-Josef Kuschel menyoroti beberapa perhatian utama dalam memasyaratkan non-violence sebagai kekuatan moral yang perlu diwujudkan di dunia sekarang ini. Pertama, dalam agama-agama kuno dan tradisi-tradisi etis umat manusia masih hidup adagium klasik seperti ini: “jangan membunuh!” atau dalam rumusan positif dapat dikatakan: “Hormati kehidupan!” Mesti diingat bahwa tiap manusia berhak hidup dengan aman dan mengalami perkembangan pribadi secara menyeluruh dan utuh. Kedua, ada gejala umum yang menyatakan bahwa pemecahan masalah social tertentu sering kali memunculkan konflik di tengah masyarakat yang majemuk. Konflik-konflik itu harus diselesaikan secara non-violence dan dibingkai dengan pemikiran keadilan. Tanpa itu kedamaian di bumi tidak akan ada. Ketiga, generasi muda mesti belajar di rumah dan sekolah bahwa kekerasan tidak boleh menjadi sarana untuk menghadapi dan mengatasi masalah serta perbedaan-perbedaan dengan orang lain. Kebudayaan non-violence harus diciptakan dan dikembangkan dalam hidup manusia. Keempat, manusia sebegitu berharganya harus dilindungi dan diperhatikan tanpa syarat seperti makhluk ciptaan lain yang yang tak berakal budi. Kelima, menjadi manusia sejati berarti memiliki perhatian dan keterlibatan dengan hidup, keadaan, dan karya-karya orang lain. Tampak di sini bahwa pernyataan I Chicago menunjukkan bahwa setiap manusia dipanggil untuk mencintai sesama dan menghargai mereka sesuai harkat dan martabat manusia. Anton.B</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/antonbara.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/antonbara.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/antonbara.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/antonbara.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/antonbara.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/antonbara.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/antonbara.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/antonbara.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/antonbara.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/antonbara.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/antonbara.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/antonbara.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/antonbara.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/antonbara.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=antonbara.wordpress.com&amp;blog=6524330&amp;post=3&amp;subd=antonbara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antonbara.wordpress.com/2009/02/10/mewujudkan-budaya-%e2%80%9cnon-violence%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/449697fd11c18c2e2f5cdab5c59c3ad3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">antonbara</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://antonbara.wordpress.com/2009/02/10/hello-world/</link>
		<comments>http://antonbara.wordpress.com/2009/02/10/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Feb 2009 05:12:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antonbara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=antonbara.wordpress.com&amp;blog=6524330&amp;post=1&amp;subd=antonbara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/antonbara.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/antonbara.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/antonbara.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/antonbara.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/antonbara.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/antonbara.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/antonbara.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/antonbara.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/antonbara.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/antonbara.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/antonbara.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/antonbara.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/antonbara.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/antonbara.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=antonbara.wordpress.com&amp;blog=6524330&amp;post=1&amp;subd=antonbara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antonbara.wordpress.com/2009/02/10/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/449697fd11c18c2e2f5cdab5c59c3ad3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">antonbara</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
